
Jenis-Jenis Imposter Syndrome dan Cara Menghadapinya
Pernah nggak sih kamu merasa nggak pantas dengan apa yang kamu capai, seolah-olah semua pencapaianmu itu cuma “kebetulan”?
Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami imposter syndrome. Imposter syndrome adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak layak atas kesuksesannya sendiri, merasa bahwa dia “menipu” orang lain karena nggak sehebat yang orang lain pikirkan.
Imposter syndrome ini cukup sering dialami, terutama oleh wanita muda. Bahkan, menurut riset dari International Journal of Behavioral Science, 70% orang pernah mengalami imposter syndrome setidaknya sekali dalam hidup mereka.
Nah, biar kamu lebih mengenali dan mengatasinya, yuk kita bahas jenis-jenis imposter syndrome!
Jenis-Jenis Imposter Syndrome
- The PerfectionistSi perfeksionis selalu merasa bahwa apa pun yang dikerjakannya harus sempurna. Mereka cenderung overthink dan nggak pernah puas dengan hasil kerja sendiri. Meskipun sudah mencapai standar yang sangat tinggi, mereka tetap merasa kurang dan selalu fokus pada kesalahan kecil. Perfectionists cenderung merasa bahwa jika ada kekurangan, itu artinya mereka gagal total. Jadi, kalau kamu sering merasa bahwa hasilmu nggak cukup bagus meskipun orang lain sudah memuji, mungkin kamu termasuk tipe ini.
- The Superwoman/SupermanOrang dengan tipe ini sering merasa bahwa mereka harus terus bekerja lebih keras daripada orang lain untuk membuktikan dirinya. Tipe ini cenderung sulit beristirahat karena merasa nggak layak kalau belum “menghasilkan” sesuatu. Data dari Verywell Mind menunjukkan bahwa sekitar 50% pekerja yang overwork mengalami imposter syndrome jenis ini. Mereka sering merasa insecure kalau nggak bisa mengerjakan banyak hal sekaligus dan cenderung sulit delegasi karena takut terlihat tidak kompeten.
- The Natural GeniusTipe ini merasa bahwa segala sesuatu harus mudah bagi mereka. Jika mereka harus berjuang keras untuk memahami atau menyelesaikan sesuatu, mereka langsung merasa tidak kompeten. Padahal, nggak ada salahnya kalau kita butuh waktu untuk belajar atau adaptasi, kan? Sayangnya, natural genius sering merasa bahwa kesuksesan harus diraih tanpa kesulitan. Ketika menghadapi tantangan, mereka merasa gagal dan nggak cukup pintar.
- The Soloist“Aku bisa kok sendiri.” Pernah berpikir seperti itu? Soloists biasanya menolak bantuan karena merasa bahwa meminta bantuan berarti menunjukkan kelemahan. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka bisa melakukan semuanya sendirian, meskipun itu berarti harus struggling sendirian. Tipe ini sering merasa insecure ketika harus kolaborasi atau teamwork, karena merasa harus menunjukkan bahwa mereka bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain.
- The ExpertTipe expert selalu merasa bahwa mereka belum cukup tahu atau belum cukup ahli, meskipun sebenarnya mereka sudah sangat berpengalaman. Expert merasa selalu kurang ilmu dan nggak pernah cukup puas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Menurut data dari American Psychological Association, imposter syndrome tipe expert sering dialami oleh wanita muda yang merasa perlu belajar lebih banyak sebelum dianggap kompeten. Tipe ini biasanya sering ikut kursus atau pelatihan terus-menerus, meskipun sebenarnya sudah cukup mumpuni.
Kesimpulan: Face It, Don’t Fake It!
Dengan mengetahui jenis imposter syndrome, siapa saja lebih bisa menghadapinya. Menghadapi imposter syndrome memang nggak mudah, tapi kamu harus tahu bahwa perasaan ini nggak mendefinisikan dirimu. Setiap tipe imposter syndrome punya cara untuk diatasi.
Ingat, girls, kamu nggak sendirian, dan kamu pantas mendapat apresiasi atas semua yang sudah kamu capai. Acknowledge your feelings, tapi jangan biarkan itu menghalangi langkahmu. You’re stronger than you think!