
Lebih dari 2 Jam Main Social Media Bisa Bikin Kita Makin Kesepian?
Social media dan loneliness ternyata memiliki hubungan yang menarik untuk diperhatikan, terutama di kalangan anak muda. Kita bisa menghabiskan berjam-jam melihat kehidupan teman, influencer, bahkan orang yang sama sekali tidak dikenal. Anehnya, setelah menutup aplikasi, bukannya merasa lebih connected, sebagian dari kita justru merasa sendirian.
Fenomena tersebut dibahas dalam penelitian terbaru berjudul Social Media Use, Loneliness and Emotional Distress Among Young People in Europe yang dipublikasikan pada 2026 di jurnal SSM – Mental Health. Penelitian dilakukan oleh Béatrice d’Hombres, Matija Kovacic, dan Begoña Cabeza Martínez.
Riset tersebut menggunakan data 2022 EU Loneliness Survey dan berfokus pada kelompok usia 16–35 tahun di 27 negara anggota Uni Eropa. Hasilnya memberikan perspektif menarik tentang bagaimana kehidupan yang sangat terkoneksi secara digital belum tentu membuat seseorang merasa lebih dekat dengan orang lain.
Dua Jam yang Ternyata Berarti
Penelitian menemukan bahwa penggunaan situs jejaring sosial secara intensif, yang didefinisikan sebagai lebih dari dua jam per hari, berasosiasi positif dengan loneliness serta perasaan emotional distress yang lebih sering.
Hubungan social media dan loneliness tersebut tetap ditemukan setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor, termasuk kesehatan fisik, aktivitas olahraga dan budaya, penggunaan teknologi digital lain, hingga kualitas serta ukuran jaringan sosial offline.
Menariknya, penelitian terkait dari Joint Research Centre (JRC) Komisi Eropa sebelumnya menemukan sekitar 34,5% responden berusia 16–30 tahun menggunakan situs jejaring sosial lebih dari dua jam sehari.
Jadi, kalau screen time menunjukkan Instagram, TikTok, X, atau platform lainnya mengambil porsi besar harimu, kamu definitely tidak sendirian.
Namun, ada perbedaan penting antara membuka social networking sites dan menggunakan aplikasi untuk berkomunikasi. Penggunaan messaging tools secara intensif dalam studi 2026 tersebut tidak menunjukkan hubungan yang konsisten dengan emotional distress dan hanya memiliki hubungan yang lemah dengan tingkat loneliness yang lebih rendah dalam model utama penelitian.
Artinya, how we use technology matters.
Perempuan Menunjukkan Hubungan yang Lebih Kuat
Temuan lain yang menarik dari penelitian social media dan loneliness adalah perbedaan berdasarkan gender. Hubungan antara penggunaan jejaring sosial intensif dengan loneliness dan emotional distress ditemukan lebih kuat pada perempuan.
Selain itu, asosiasi tersebut juga lebih kuat pada mereka yang memiliki jaringan sosial offline lebih kecil.
Bayangkan seseorang yang lingkaran pertemanannya sedang mengecil karena pindah kota, bekerja remote, kehilangan sahabat, atau memasuki fase hidup yang berbeda. Social media mungkin terasa seperti pintu untuk tetap terkoneksi. Namun, melihat kehidupan banyak orang di layar belum tentu dapat menggantikan kualitas interaksi langsung.
Beberapa pengalaman yang mungkin terasa familiar antara lain:
- Scroll tanpa tujuan ketika sedang merasa kesepian.
- Membandingkan kehidupan sendiri dengan highlight kehidupan orang lain.
- Punya ratusan mutual tetapi bingung menghubungi siapa ketika sedang sedih.
- Lebih sering memberikan reaction daripada melakukan percakapan nyata.
- Merasa tertinggal setelah melihat pencapaian teman sebaya.
Di sinilah hubungan social media dan loneliness menjadi lebih kompleks daripada sekadar perkara screen time.
Bukan Berarti Harus Menghapus Semua Aplikasi
Temuan ini tidak berarti dua jam adalah angka ajaib yang otomatis membuat seseorang kesepian. Penelitian tersebut menunjukkan asosiasi, bukan membuktikan bahwa penggunaan social media secara langsung menyebabkan loneliness.
Kita juga tidak perlu melakukan dramatic digital detox dan menghapus seluruh aplikasi malam ini.
Sebaliknya, penelitian social media dan loneliness bisa menjadi alasan untuk mengevaluasi kebiasaan digital. Coba perhatikan perasaan sebelum dan sesudah scrolling. Apakah kamu merasa entertained dan connected, atau justru lebih insecure, anxious, dan lonely?
Kita juga bisa mengubah sebagian screen time menjadi sesuatu yang lebih meaningful. Daripada satu jam melihat kehidupan orang lain, gunakan sebagian waktunya untuk menelepon sahabat, makan bersama teman, mengikuti komunitas, atau sekadar mengobrol tanpa layar di meja.
Social media seharusnya membantu memperluas dunia kita, bukan menjadi satu-satunya dunia yang kita miliki.
Riset tentang social media dan loneliness ini mengingatkan bahwa banyaknya koneksi digital tidak selalu sama dengan kedekatan emosional. Sometimes, having someone to really talk to matters more than having hundreds of people watching our Stories.
Keterangan sumber penelitian: D’Hombres, B., Kovacic, M., & Cabeza Martínez, B. (2026), Social Media Use, Loneliness and Emotional Distress Among Young People in Europe, SSM – Mental Health, DOI 10.1016/j.ssmmh.2026.100621. Penelitian menggunakan data EU-wide Loneliness Survey dan menganalisis kelompok usia 16–35 tahun di seluruh 27 negara anggota Uni Eropa.