
Pelajaran Konformitas Sosial dalam Film Don’t Worry Darling
Konformitas sosial adalah kecenderungan seseorang menyesuaikan sikap, perilaku, atau pendapat agar selaras dengan kelompok di sekitarnya, meskipun bertentangan dengan keyakinan pribadi. Konformitas sosial sering terjadi tanpa disadari karena manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dan menghindari penolakan. Fenomena inilah yang menjadi salah satu tema utama dalam film Don’t Worry Darling.
Don’t Worry Darling merupakan film thriller psikologis yang dirilis pada tahun 2022 dan disutradarai oleh Olivia Wilde. Film ini dibintangi oleh Florence Pugh, Harry Styles, Chris Pine, Olivia Wilde, Gemma Chan, dan Nick Kroll. Di balik visualnya yang indah dan suasana kota Victory yang tampak sempurna, film ini menyimpan kritik terhadap tekanan sosial yang membuat seseorang mengikuti aturan tanpa banyak bertanya.
Film ini mengajak penonton berpikir bahwa tidak semua lingkungan yang terlihat ideal benar-benar memberikan kebebasan bagi individu.
Mengapa Semua Orang Terlihat Patuh?
Di kota Victory, hampir semua penghuni menjalani rutinitas yang sama. Para pria berangkat bekerja setiap pagi, sementara para perempuan menjalani kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna. Tidak ada yang mempertanyakan aturan tersebut.
Ketika Alice mulai merasa ada sesuatu yang janggal, lingkungan di sekitarnya justru berusaha meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja.
Inilah contoh nyata konformitas sosial. Keinginan untuk tetap diterima membuat banyak orang memilih mengikuti norma kelompok dibanding mempertanyakan apakah norma tersebut benar.
Dalam kehidupan sehari-hari, situasi serupa juga dapat ditemukan. Misalnya ketika seseorang mengikuti budaya kerja yang tidak sehat karena semua rekan kerja melakukannya, atau ikut menyebarkan pendapat mayoritas meskipun sebenarnya tidak setuju.
Apa Kata Psikologi?
Salah satu penelitian paling terkenal mengenai konformitas sosial dilakukan oleh psikolog Solomon Asch pada tahun 1951. Dalam eksperimen tersebut, banyak peserta memberikan jawaban yang jelas-jelas salah hanya karena mayoritas anggota kelompok memberikan jawaban yang sama.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tekanan sosial mampu memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, bahkan ketika fakta sebenarnya terlihat jelas.
Menurut American Psychological Association (APA), konformitas merupakan perubahan perilaku atau keyakinan yang terjadi sebagai respons terhadap tekanan kelompok, baik secara nyata maupun yang hanya dirasakan oleh individu. Fenomena ini membantu menjaga keteraturan sosial, tetapi juga dapat membuat seseorang mengabaikan penilaian pribadinya.
Temuan Asch menjadi salah satu dasar mengapa konformitas sosial masih dipelajari hingga sekarang, terutama dalam konteks organisasi, pendidikan, dan hubungan antarmanusia.
Think for yourself.
Kalimat sederhana itu menjadi pesan yang sangat kuat dalam Don’t Worry Darling.
Ketika Keinginan Diterima Menjadi Berbahaya
Film ini memperlihatkan bahwa masalah bukan terletak pada keberadaan aturan, melainkan ketika seseorang tidak lagi memiliki ruang untuk mempertanyakan aturan tersebut.
Alice mulai dianggap aneh bukan karena melakukan kesalahan, tetapi karena berani mempertanyakan kenyataan yang diterima oleh semua orang.
Hal tersebut mengingatkan bahwa konformitas sosial dapat berubah menjadi sesuatu yang berbahaya jika membuat individu kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari film ini antara lain:
- Berani mempertanyakan sesuatu bukan berarti selalu memberontak.
- Pendapat mayoritas belum tentu merupakan kebenaran.
- Lingkungan dapat memengaruhi cara berpikir tanpa disadari.
- Berpikir kritis penting sebelum mengikuti keputusan kelompok.
- Keberanian untuk berbeda kadang menjadi langkah pertama menuju perubahan.
Pelajaran-pelajaran tersebut tetap relevan, baik dalam dunia kerja, pertemanan, maupun kehidupan bermasyarakat.
Berani Berpikir Mandiri
Salah satu kekuatan Don’t Worry Darling bukan hanya alur misterinya, tetapi juga cara film ini memperlihatkan bagaimana tekanan kelompok dapat membentuk perilaku seseorang.
Konformitas sosial memang membantu manusia hidup berdampingan dalam masyarakat. Namun, kemampuan untuk mengevaluasi norma yang ada tetap diperlukan agar kita tidak mengikuti sesuatu hanya karena semua orang melakukannya.
Film ini mengingatkan bahwa menjadi bagian dari kelompok bukan berarti harus kehilangan identitas atau kemampuan berpikir sendiri.
Dengan memahami konsep konformitas sosial, kita menjadi lebih peka terhadap berbagai tekanan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ketika mampu membedakan antara mengikuti aturan yang bermanfaat dan sekadar mengikuti mayoritas tanpa pertimbangan, kita dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Don’t Worry Darling menunjukkan bahwa keberanian mempertanyakan sesuatu sering kali menjadi awal untuk melihat kenyataan dari sudut pandang yang berbeda.