
Perilaku Self Sabotage Saat Zona Nyaman Menjadi Jebakan
Perilaku self sabotage tidak selalu terlihat seperti sengaja menghancurkan kesempatan sendiri. Bentuknya bisa jauh lebih subtle: bertahan di pekerjaan yang sudah membuatmu unhappy, mempertahankan hubungan yang tidak berkembang, atau menjalani kebiasaan lama karena memulai sesuatu yang baru terlihat lebih menakutkan.
Kita tahu situasi sekarang tidak ideal. Kita bahkan bisa membayangkan kehidupan yang lebih baik jika berani berubah. Namun, muncul pikiran, “What if the new situation is even worse?”
Akhirnya, pilihan yang familiar menang.
Mengapa Kita Memilih Sesuatu yang Sudah Tidak Cocok?
Dalam behavioral science terdapat konsep status quo bias, yaitu kecenderungan memilih keadaan sekarang dibandingkan melakukan perubahan, bahkan ketika tersedia alternatif yang berpotensi lebih baik.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Economic Behavior & Organization pada 2024 meneliti 1.423 orang dewasa yang bekerja di Israel. Peneliti menemukan status quo bias berkorelasi negatif secara signifikan dengan tiga ukuran subjective well-being. Peneliti bahkan mencontohkan bagaimana bias ini bisa mempertahankan seseorang dalam kondisi seperti pekerjaan yang tidak diinginkan atau pernikahan yang tidak memuaskan.
Temuan tersebut menarik jika dikaitkan dengan perilaku self sabotage. Kita mungkin berpikir bertahan adalah keputusan paling aman, padahal tidak mengambil keputusan juga merupakan sebuah keputusan.
Familiar doesn’t always mean good for you.
Otak Memang Menyukai yang Familiar
Penelitian lain yang terbit pada 2025 menguji status quo bias dalam konteks perubahan organisasi. Dalam salah satu skenario, 72,4% dari 217 responden memilih mempertahankan status quo. Secara keseluruhan dari berbagai skenario penelitian, 868 dari 1.316 pilihan mengarah pada status quo.
Jadi, enggan keluar dari zona nyaman bukan otomatis berarti seseorang malas atau tidak ambisius. Hal yang sudah dikenal memberikan kepastian, sedangkan perubahan membawa uncertainty.
Masalah muncul ketika perilaku self sabotage membuat kita terus menggunakan rasa aman sebagai alasan untuk menghindari pertumbuhan.
Misalnya, kamu ingin mencari pekerjaan baru selama dua tahun, tetapi selalu berkata belum waktunya. Kamu sadar relationship tersebut tidak sesuai dengan nilai hidupmu, tetapi takut memulai lagi dari nol. Atau kamu ingin membangun bisnis, belajar skill baru, dan bertemu lingkungan baru, tetapi terus menunggu sampai merasa completely ready.
Sayangnya, rasa siap 100 persen mungkin tidak pernah datang.
Zona Nyaman Boleh Nyaman, tetapi Jangan Menjadi Penjara
Keluar dari zona nyaman tidak harus berarti resign besok pagi atau langsung mengakhiri hubungan. Perubahan besar bisa dimulai melalui small experiments.
Kalau ingin pindah karier, coba ambil course atau berbicara dengan seseorang dari industri tujuanmu. Jika ingin meninggalkan kebiasaan lama, ubah satu bagian kecil terlebih dahulu. Kita sedang memberikan bukti kepada otak bahwa sesuatu yang baru tidak selalu berakhir buruk.
Penelitian Frontiers in Psychology pada 2025 juga membahas learning comfort zone dalam konteks karyawan. Studi tersebut menyoroti bahwa learning inertia dapat membuat pekerja bertahan di zona nyaman dan resisten mengubah status quo, sementara strategi nudging dapat membantu mendorong pembelajaran baru.
Mengurangi perilaku self sabotage berarti belajar membedakan dua hal: “Aku memilih bertahan karena memang menginginkannya” dan “Aku bertahan karena takut melihat apa yang ada setelah ini.”
Tidak semua zona nyaman harus ditinggalkan. Stabilitas juga penting. Namun, ketika sebuah situasi sudah bertahun-tahun membuatmu unhappy dan satu-satunya alasan bertahan adalah takut terhadap perubahan, mungkin yang sedang melindungimu bukan lagi comfort zone.
Itu bisa menjadi perilaku self sabotage dengan pakaian bernama keamanan.
You don’t need to change everything today. But you can stop using fear as your only reason to stay.