
Doomscrolling Ternyata Mengganggu Kesehatan Mental
Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir media sosial atau membaca berita negatif tanpa sadar, meskipun sebenarnya hal tersebut membuat kita semakin cemas dan lelah. Banyak wanita dewasa muda mengalaminya setiap hari. Awalnya hanya ingin membuka media sosial selama lima menit, tetapi tanpa terasa satu jam berlalu dan pikiran justru terasa lebih berat.
Ironisnya, kita tahu konten yang dilihat membuat tidak nyaman, tetapi tetap sulit berhenti. Seolah ada dorongan untuk terus mencari informasi berikutnya, meskipun sebagian besar hanya menambah kecemasan.
Menurut penelitian dari American Psychological Association, paparan berita negatif dan informasi yang berlebihan melalui media digital berkaitan dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan, dan kelelahan mental pada orang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa cara kita mengonsumsi informasi juga memengaruhi kesehatan mental.
Kenapa Doomscrolling Sulit Dihentikan
Otak manusia secara alami lebih mudah memperhatikan informasi yang berhubungan dengan ancaman atau hal negatif. Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias. Dahulu, kemampuan tersebut membantu manusia bertahan hidup karena membuat kita lebih waspada terhadap bahaya.
Namun di era media sosial, mekanisme yang sama justru membuat kita terus tertarik membaca berita buruk, konflik, komentar negatif, atau berbagai informasi yang memicu rasa cemas.
Akibatnya, doomscrolling menjadi kebiasaan yang dilakukan hampir tanpa sadar.
Semakin banyak informasi yang dikonsumsi, semakin besar pula rasa ingin tahu terhadap informasi berikutnya. Padahal, informasi tersebut sering kali tidak benar-benar membantu menyelesaikan masalah yang kita hadapi.
Ditambah lagi, algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna bertahan selama mungkin. Jika kamu sering membuka konten tertentu, platform akan menampilkan lebih banyak konten serupa.
Without realizing it, you are feeding your own anxiety.
Dampaknya Tidak Hanya Membuat Cemas
Banyak orang mengira doomscrolling hanya membuat suasana hati sedikit memburuk. Padahal dampaknya bisa jauh lebih luas.
Paparan informasi negatif yang terus-menerus dapat membuat otak berada dalam kondisi siaga lebih lama. Akibatnya, tubuh menjadi lebih sulit rileks, pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, dan kualitas tidur ikut menurun.
Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa lebih mudah lelah, kehilangan fokus saat bekerja, sulit menikmati waktu bersama keluarga, bahkan menjadi lebih pesimis terhadap masa depan.
Yang menarik, sering kali bukan karena hidup kita sedang bermasalah, tetapi karena kita terlalu banyak menyerap masalah yang sedang dialami orang lain.
Ketika membaca berita demi berita tanpa jeda, otak kesulitan membedakan ancaman yang benar-benar terjadi pada diri kita dengan ancaman yang hanya kita lihat melalui layar.
Karena itu, doomscrolling bisa membuat seseorang merasa dunia jauh lebih buruk daripada kenyataannya.
Hal ini juga membuat kita kehilangan waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk melakukan aktivitas yang lebih menenangkan atau produktif.
Cara Mengurangi Doomscrolling
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dikurangi secara bertahap jika dilakukan dengan sadar.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba antara lain:
- Batasi waktu penggunaan media sosial setiap hari.
- Hindari membuka berita sesaat sebelum tidur.
- Pilih akun yang memberi informasi berkualitas dan seimbang.
- Beri jeda setelah membaca berita yang berat.
- Isi waktu luang dengan aktivitas di luar layar.
- Sadari kapan kamu mulai scrolling tanpa tujuan.
Mengurangi doomscrolling bukan berarti menutup diri dari informasi. Justru tujuannya agar kamu tetap mendapatkan informasi yang penting tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Semakin bijak kamu mengatur konsumsi informasi, semakin tenang pula pikiranmu.
Gunakan Sosmed Bijak
Pada akhirnya, doomscrolling mengingatkan kita bahwa terlalu banyak informasi tidak selalu membuat kita lebih siap menghadapi hidup. Kadang justru membuat kita semakin cemas, lelah, dan kehilangan fokus pada kehidupan sendiri.
Media sosial adalah alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijak. Namun ketika kita membiarkan algoritma menentukan apa yang terus kita konsumsi, kesehatan mental bisa ikut terdampak.
Karena itu, sesekali berhentilah menggulir layar. Tarik napas, lihat keadaan di sekitarmu, dan sadari bahwa dunia nyata sering kali jauh lebih tenang daripada apa yang terus muncul di timeline.
Informasi memang penting, tetapi ketenangan pikiran juga tidak kalah penting. Menjaga keduanya tetap seimbang adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.