
Social Comparison Bikin Hidup Terasa Tertinggal
Social comparison adalah kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai kemampuan, pencapaian, penampilan, atau posisi hidup sendiri. Kita mungkin melakukannya tanpa sadar ketika melihat teman membeli rumah, rekan kerja mendapat promosi, atau seseorang di media sosial terlihat menjalani kehidupan yang jauh lebih menarik. Masalahnya, social comparison bisa membuat hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.
Kamu mungkin sebenarnya baik-baik saja sampai membuka Instagram. Tiba-tiba teman kuliah sudah menikah, teman kantor mendapat jabatan baru, sementara orang lain tampak sukses menjalankan bisnis. Padahal, beberapa menit sebelumnya kamu masih menikmati hidupmu sendiri.
Kenapa Kita Suka Membandingkan?
Membandingkan diri sebenarnya bukan perilaku yang selalu buruk. Manusia menggunakan orang lain sebagai referensi untuk memahami dirinya sendiri. Kita bisa belajar dari seseorang yang lebih berpengalaman, mengetahui standar tertentu, atau mendapatkan motivasi setelah melihat pencapaian orang lain.
Masalah muncul ketika perbandingan berubah menjadi ukuran harga diri.
Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang bisa kupelajari?” tetapi mulai berpikir, “Kenapa hidupku tidak seperti dia?”
Pada titik ini, social comparison dapat menjadi melelahkan karena standar yang digunakan terus bergerak. Begitu mencapai sesuatu, kita menemukan orang lain yang memiliki lebih banyak.
Media sosial membuat proses tersebut semakin mudah terjadi. Timeline memperlihatkan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih dan dikurasi, sementara kita menjalani kehidupan sendiri secara utuh, termasuk hari buruk, kegagalan, dan momen membosankan.
Perbandingan tersebut jelas tidak seimbang.
Penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Psychology pada 2025 menemukan bahwa paparan terhadap upward social comparison, yaitu membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul, berkaitan dengan penurunan self-esteem dan peningkatan gejala depresi dalam beberapa konteks penggunaan media sosial. Studi tersebut melibatkan 413 peserta pada penelitian kedua dan menemukan bahwa paparan serta intensitas perbandingan ke atas memiliki hubungan yang bermakna meskipun efeknya tergolong modest.
Ketika Perbandingan Mulai Menguasai Pikiran
Salah satu tanda social comparison mulai tidak sehat adalah ketika pencapaian orang lain terasa seperti ancaman terhadap diri sendiri.
Kamu melihat seseorang mendapat promosi dan langsung merasa gagal. Kamu mendengar teman membeli rumah dan merasa hidupmu tertinggal. Bahkan prestasi orang lain terasa mengganggu bukan karena mereka melakukan sesuatu yang salah, tetapi karena pencapaian mereka membuatmu semakin sadar terhadap hal yang belum kamu miliki.
Perasaan tersebut dapat berkembang menjadi merasa tertinggal, meskipun sebenarnya hidupmu berjalan sesuai tahapmu sendiri.
Hal serupa dapat muncul ketika kamu mengalami takut salah dalam mengambil keputusan. Kamu terus melihat pilihan orang lain sebagai patokan, lalu menganggap pilihanmu sendiri kurang baik hanya karena berbeda.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, sumber daya, dan prioritas yang tidak sama.
Pada 2025, penelitian di Universitas Negeri Semarang terhadap 164 pengguna Instagram Gen Z berusia 20–28 tahun menemukan korelasi positif yang signifikan antara social comparison dan quarter-life crisis, dengan nilai korelasi Pearson r = 0,757.
Angka tersebut bukan berarti setiap orang yang membandingkan diri pasti mengalami krisis seperempat abad. Namun, temuan tersebut menunjukkan mengapa kebiasaan membandingkan diri layak diperhatikan.
Belajar Berhenti Membandingkan
Kamu tidak perlu menghilangkan social comparison sepenuhnya. Yang lebih realistis adalah mengubah cara menggunakannya.
Ketika melihat orang lain berhasil, coba tanyakan: “Apa yang bisa kupelajari dari perjalanan ini?” bukan “Kenapa aku belum seperti dia?”
Perbedaan pertanyaan menghasilkan perbedaan respons emosional.
Jika kamu mulai merasa social battery habis karena terus mengikuti kehidupan orang lain, mungkin sudah waktunya mengurangi paparan terhadap akun yang membuatmu terus merasa kurang. Jika perbandingan membuatmu mengalami emotional exhaustion, mengambil jeda dari media sosial juga bisa menjadi bentuk menjaga diri.
Menariknya, kemampuan berhenti membandingkan juga berkaitan dengan kemampuan menerima bahwa konformitas sosial bukan kewajiban. Kamu tidak harus mengikuti timeline kehidupan orang lain hanya karena lingkungan menganggap itulah standar yang seharusnya.
Life is not a race with one finish line.
Kehidupan orang lain dapat menjadi inspirasi, tetapi tidak harus menjadi penggaris untuk mengukur nilai dirimu. Jika social comparison membuatmu kehilangan apresiasi terhadap perjalanan sendiri, mungkin yang perlu diubah bukan hidupmu, melainkan cara kamu melihatnya.
Per 2026, ketika media sosial semakin menjadi bagian dari keseharian, kemampuan memilih apa yang ingin kita konsumsi menjadi semakin penting. Kamu boleh mengagumi pencapaian orang lain tanpa menjadikannya bukti bahwa dirimu kurang.
Karena hidup yang baik tidak selalu terlihat paling cepat dari luar. Kadang, hidup yang tepat justru adalah hidup yang memang cocok untukmu.