
Shared Delusion Mengapa Kita Bisa Percaya Bersama
Shared delusion adalah kondisi ketika keyakinan delusional seseorang ikut diterima oleh orang lain yang memiliki hubungan sangat dekat dengannya, sehingga keduanya dapat mempercayai sesuatu yang sama-sama tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam psikologi, fenomena ini juga dikenal sebagai shared psychosis atau istilah klasik folie à deux. Shared delusion bukan sekadar dua orang yang memiliki pendapat sama.
Bayangkan dua orang yang sangat dekat dan hampir selalu bersama. Mereka hanya mendengar penjelasan satu sama lain, jarang mendapatkan perspektif dari luar, lalu perlahan semakin yakin bahwa cara mereka melihat dunia adalah satu-satunya yang benar. Dalam kondisi ekstrem, keyakinan tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.
Ketika Keyakinan Menular
Shared delusion biasanya berkaitan dengan hubungan yang sangat dekat. Merck Manual menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi ketika seseorang memperoleh delusi dari individu yang memiliki hubungan personal erat dengannya. Kondisi ini tergolong jarang dan sering ditemukan dalam hubungan keluarga atau kelompok kecil yang sangat terikat.
Salah satu karakteristik yang menarik adalah adanya pengaruh interpersonal. Biasanya terdapat seseorang yang memiliki gangguan psikotik utama, sementara individu lain menerima atau ikut mempercayai keyakinan tersebut.
Hubungan yang sangat intens dapat membuat batas antara “apa yang aku pikirkan” dan “apa yang dia yakini” menjadi semakin kabur.
Namun, penting untuk tidak menggunakan istilah shared delusion secara sembarangan. Dua teman yang sama-sama percaya bahwa kantor mereka tidak menyenangkan bukan berarti mengalami kondisi ini. Begitu pula pasangan yang memiliki teori konspirasi yang sama belum otomatis mengalami gangguan psikologis.
Delusi memiliki makna klinis yang jauh lebih spesifik.
Mengapa Sulit Menyadari Kesalahan?
Salah satu alasan fenomena ini menarik adalah karena manusia tidak hidup dalam ruang berpikir yang sepenuhnya objektif. Kita membangun pemahaman tentang dunia melalui pengalaman, hubungan, informasi, dan lingkungan.
Jika dua orang terus-menerus saling menguatkan keyakinan yang sama, mereka dapat kehilangan kesempatan untuk mendapatkan koreksi dari luar.
Dalam penelitian dan literatur klinis, isolasi sosial dan hubungan yang sangat erat disebut sebagai karakteristik yang dapat muncul pada kasus shared psychotic disorder. Sebuah laporan kasus yang diterbitkan pada 2021 menggambarkan dua anggota keluarga yang mengalami sistem delusi bersama dalam konteks hubungan yang sangat erat dan isolasi sosial.
Di sinilah konsep reinforcement menjadi menarik. Ketika seseorang mengatakan, “Aku juga melihatnya seperti itu,” keyakinan yang sebelumnya terasa meragukan bisa mendapatkan validasi baru.
It does not make the belief true.
Validasi dari orang terdekat memang dapat terasa sangat meyakinkan, tetapi persetujuan bukanlah bukti bahwa suatu keyakinan benar.
Pelajaran dari Shared Delusion
Fenomena shared delusion sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih luas tentang cara kita membangun keyakinan. Kita semua membutuhkan orang lain untuk mendapatkan perspektif, tetapi terlalu bergantung pada satu lingkungan dapat membuat sudut pandang menjadi sempit.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya tentu tidak selalu berupa delusi klinis. Kita bisa terjebak dalam kelompok yang selalu menyetujui pendapat kita, mengikuti informasi yang hanya menguatkan keyakinan sendiri, atau menganggap orang di luar kelompok tidak memahami kenyataan.
Karena itu, memiliki hubungan dekat tidak berarti harus selalu menyetujui satu sama lain. Justru, hubungan yang sehat dapat menyediakan ruang untuk berkata, “Bagaimana kalau kita salah?”
Kemampuan menerima kemungkinan bahwa diri sendiri keliru merupakan bagian penting dari critical thinking.
Menurut Merck Manual, dalam kondisi shared psychosis, orang yang menerima keyakinan delusional dari individu lain dapat kehilangan keyakinan tersebut setelah dipisahkan dari sumber utamanya. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya konteks hubungan dalam mempertahankan keyakinan tertentu.
Shared delusion juga mengingatkan bahwa kedekatan emosional memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia memahami dunia. Kita dapat merasa lebih yakin ketika seseorang yang kita percaya mengatakan hal yang sama, tetapi rasa yakin tidak selalu sama dengan kebenaran.
Pada kehidupan normal, kita tidak perlu mencurigai setiap kesamaan pendapat. Yang lebih penting adalah mempertahankan ruang untuk perspektif berbeda, memeriksa informasi, dan tetap bersedia mengoreksi diri ketika menemukan bukti baru.
Memahami shared delusion bukan tentang takut terpengaruh orang lain. Ini tentang menyadari bahwa hubungan terdekat sekalipun dapat memengaruhi cara kita melihat realitas, sehingga sesekali kita perlu keluar dari ruang gema dan bertanya:
apakah aku mempercayai ini karena memang benar, atau karena orang yang paling kupercaya juga mempercayainya?