
Takut Menghabiskan Uang Meski Punya Tabungan, Apakah Termasuk Financial Anxiety?
Financial anxiety adalah rasa khawatir, takut, atau tertekan yang berkaitan dengan kondisi keuangan, termasuk ketika sebenarnya kita masih memiliki tabungan. Pernah merasa bersalah setelah membeli sesuatu untuk diri sendiri? Atau berkali-kali mengecek saldo setelah mengeluarkan uang Rp100 ribu, padahal dana darurat masih aman? Perasaan semacam ini cukup umum dan tidak selalu disebabkan oleh kondisi finansial yang buruk.
Punya Tabungan Belum Tentu Membuat Tenang
Secara logika, tabungan seharusnya memberikan rasa aman. Namun, hubungan seseorang dengan uang tidak selalu berjalan berdasarkan angka. Pengalaman kehilangan pekerjaan, pernah kekurangan uang, tumbuh dalam keluarga yang sering membicarakan masalah finansial, atau melihat biaya hidup terus meningkat dapat membentuk kekhawatiran terhadap masa depan.
Data American Psychological Association (APA) menunjukkan kuatnya tekanan finansial pada kelompok usia muda. Dalam survei Stress in America, 82% orang berusia 18–34 tahun menyebut uang sebagai sumber stres yang signifikan. Bahkan, 67% kelompok usia tersebut mengatakan mereka merasa “consumed” atau sangat tersita oleh kekhawatiran mengenai uang.
Karena itu, financial anxiety bisa tetap muncul meskipun angka di rekening sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan saat ini.
Takut Saldo Berkurang
Salah satu bentuk kecemasan finansial yang mudah dikenali adalah merasa tidak nyaman melihat saldo berkurang. Misalnya, seseorang memiliki tabungan Rp20 juta dan membeli sepatu seharga Rp800 ribu. Secara finansial pembelian tersebut sudah direncanakan dan tidak mengganggu kebutuhan pokok, tetapi setelah transaksi muncul penyesalan: “Seharusnya uangnya ditabung saja.”
Ada perbedaan antara hemat dan takut menggunakan uang. Hemat biasanya lahir dari keputusan sadar untuk mencapai tujuan tertentu. Sebaliknya, financial anxiety dapat membuat seseorang merasa tidak aman setiap kali mengeluarkan uang, bahkan untuk kebutuhan yang sebenarnya sudah masuk anggaran.
Beberapa tandanya dapat berupa:
- Merasa bersalah setiap membeli sesuatu untuk diri sendiri.
- Terlalu sering mengecek saldo rekening.
- Terus memikirkan kemungkinan kehilangan pekerjaan atau pendapatan.
- Takut menggunakan dana meskipun kebutuhan tersebut penting.
- Sulit menikmati hasil kerja karena merasa semua uang harus disimpan.
- Membatalkan rencana yang sebenarnya mampu dibayar karena takut saldo berkurang.
Kekhawatiran Itu Tidak Sepenuhnya Tidak Masuk Akal
Keinginan memiliki tabungan tentu memiliki dasar yang rasional. Laporan Federal Reserve mengenai kondisi ekonomi rumah tangga AS pada 2025 menemukan hanya 55% orang dewasa memiliki dana darurat yang mampu menutup tiga bulan pengeluaran. Untuk kelompok usia 18–29 tahun, angkanya bahkan hanya 37%.
Dalam laporan yang sama, 63% orang dewasa mengatakan mereka mampu menanggung pengeluaran darurat senilai US$400 menggunakan uang tunai atau setara kas. Angka tersebut menunjukkan bahwa memiliki bantalan keuangan memang penting.
Masalah muncul ketika keinginan menjaga keamanan finansial berkembang menjadi financial anxiety yang membuat kehidupan sehari-hari terasa penuh ancaman.
Kapan Kita Boleh Menggunakan Tabungan?
Tidak semua uang harus memiliki fungsi yang sama. Kita dapat memisahkan dana darurat, kebutuhan bulanan, investasi, tabungan tujuan tertentu, serta fun money. Dengan pembagian tersebut, membeli tiket konser atau makan di restoran tidak harus terasa seperti mengambil uang dari masa depan.
Misalnya, daripada hanya memiliki satu rekening berisi Rp30 juta, kita bisa memberikan “nama” pada uang tersebut: Rp15 juta dana darurat, Rp10 juta tabungan tujuan, dan Rp5 juta untuk kebutuhan fleksibel. Cara ini membantu otak memahami bahwa sebagian uang memang boleh digunakan.
Financial anxiety juga bisa dikurangi dengan melihat angka secara objektif. Hitung pengeluaran rutin, tentukan target dana darurat, dan ketahui berapa uang yang benar-benar tersedia setelah seluruh kewajiban terpenuhi.
Uang Juga Dibuat untuk Digunakan
Menabung adalah kebiasaan finansial yang sehat, tetapi tujuan mengelola uang bukan sekadar membuat angka rekening terus bertambah. Uang juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan, menciptakan pengalaman, meningkatkan kenyamanan, dan membantu kita menjalani kehidupan.
Jika financial anxiety membuat seseorang terus merasa kekurangan meskipun kondisi finansial relatif aman, mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya saldo rekening, tetapi hubungan emosional dengan uang. Membuat anggaran yang memberi ruang untuk menikmati hasil kerja dapat membantu menciptakan keseimbangan antara mempersiapkan masa depan dan hidup hari ini.