
Kenapa Menjadi Wanita Muda Sekarang Terasa Begitu Melelahkan?
Mental wanita muda ternyata menghadapi tekanan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar stres karena pekerjaan, percintaan, atau quarter-life crisis. Sebuah penelitian terbaru yang terbit pada 2026 mencoba mendengarkan langsung pengalaman perempuan berusia 18–25 tahun. Hasilnya menunjukkan anxiety dan depresi hanya sebagian dari persoalan yang mereka rasakan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychiatry tersebut melibatkan 52 wanita muda di Amerika Serikat dengan rata-rata usia 21,6 tahun. Mereka mengikuti diskusi kelompok online anonim selama tiga hari untuk membicarakan masalah kesehatan mental, penyebabnya, serta dukungan seperti apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
Hasilnya terasa sangat relatable dengan kehidupan perempuan muda hari ini.
Anxiety dan Depresi Bukan Satu-satunya Masalah
Dalam penelitian tersebut, mental wanita muda banyak dikaitkan dengan anxiety dan depresi. Sebanyak 96,2% partisipan mendapatkan skor mulai dari kategori mild hingga severe anxiety berdasarkan GAD-7. Sementara itu, hanya 13,5% yang tercatat tidak memiliki gejala depresi berdasarkan PHQ-9.
Perlu dicatat, angka tersebut berasal dari kelompok kecil yang direkrut melalui media sosial dan tidak bisa dianggap mewakili seluruh wanita usia 18–25 tahun.
Ketika peneliti menganalisis percakapan mereka, persoalannya ternyata jauh lebih luas. Beberapa hal yang muncul antara lain:
- Anxiety dan depresi
- Trauma dan pengalaman buruk masa lalu
- Loneliness dan kurangnya koneksi
- Body image serta body dysmorphia
- Low self-esteem
- Eating disorders
- Substance use
- Kekhawatiran mengenai masa depan
Menariknya, banyak tekanan terhadap mental wanita muda tidak hanya datang dari dalam diri. Para partisipan juga membicarakan ekspektasi sosial terhadap perempuan, stigma kesehatan mental, akses terhadap layanan kesehatan, hingga kekhawatiran mengenai ekonomi dan kondisi dunia.
Jadi, mungkin kalimat “jangan overthinking” memang terlalu sederhana untuk masalah yang complicated.
Harus Cantik, Sukses, Mandiri dan Tetap Perfect
Social media menjadi salah satu topik penting dalam penelitian ini. Para partisipan merasa perempuan terus menerima gambaran tentang bagaimana mereka seharusnya terlihat dan menjalani kehidupan.
Kita diminta punya karir, mandiri secara finansial, menjaga penampilan, memiliki relationship yang sehat, tetap punya social life, produktif, dan somehow masih sempat melakukan morning routine yang aesthetically pleasing.
That is a lot.
Dalam analisis penelitian, kode mengenai tekanan dan ekspektasi sosial muncul 103 kali, sementara social media muncul 93 kali. Pengalaman sebagai perempuan, termasuk pembahasan mengenai sexism dan misogyny, juga menjadi bagian penting dari percakapan.
Media sosial dapat memperbesar tekanan terhadap mental wanita muda karena kita terus melihat standar kecantikan, lifestyle, dan kesuksesan yang terlihat sempurna. Padahal apa yang muncul di layar sering kali hanya bagian paling polished dari kehidupan seseorang.
Para peserta juga membicarakan bagaimana standar tersebut dapat mendorong social comparison, rasa tidak cukup, burnout, anxiety, hingga isolasi.
Ternyata Kita Juga Butuh Didengarkan
Ada satu insight sederhana tetapi penting dari penelitian ini: perempuan muda ingin memiliki tempat yang aman untuk bicara.
Bagi partisipan, konteks percakapan bahkan dianggap lebih penting daripada sekadar siapa yang diajak bicara. Mereka menginginkan trust, genuine concern, seseorang yang benar-benar mendengarkan, dan percakapan tanpa judgment. Dukungan teman, keluarga, serta tenaga profesional semuanya dapat memiliki peran.
Artinya, menjaga mental wanita muda tidak selalu dimulai dari solusi besar.
Partisipan juga menyebut beberapa bentuk self-care seperti tidur cukup, olahraga, pola makan sehat, mindfulness, journaling, dan social media detox. Namun penelitian menekankan bahwa persoalan ini tidak cukup diselesaikan pada level individu saja. Dukungan sosial, akses layanan kesehatan mental, lingkungan digital yang lebih sehat, serta perubahan terhadap tekanan sosial juga dibutuhkan.
Ini penting karena self-care seharusnya tidak berubah menjadi tuntutan baru: harus rajin journaling, harus meditasi, harus healing, harus selalu berpikir positif.
Penelitian mengenai mental wanita muda ini menunjukkan bahwa merasa overwhelmed di usia 18–25 tahun dapat muncul dari banyak lapisan kehidupan sekaligus. Sometimes, what we need is not another motivational quote. Bisa jadi yang lebih dibutuhkan adalah ruang aman, hubungan yang genuine, dan seseorang yang mau mendengarkan tanpa buru-buru memberikan jawaban.
Keterangan sumber penelitian: Schmidt, R.D., Gonzalez, S.T., St. George, S.M., DiCamillo, C.A., & Horigian, V.E. (2026). Shedding light on mental health problems and potential solutions for young women: results from an anonymous asynchronous online focus group. Frontiers in Psychiatry, Volume 17. Penelitian diterbitkan pada 10 April 2026 dan melibatkan 52 perempuan muda usia 18–25 tahun di Amerika Serikat.