
Saat Menjauh dari Media Sosial Terasa Lebih Tenang
Menjauh dari sosial media terkadang menjadi pilihan yang kita ambil ketika kehidupan digital mulai terasa melelahkan. Sebagai perempuan dewasa muda, kita mungkin sedang berusaha membangun karier, menjaga pertemanan, memahami diri sendiri, dan mencari arah hidup. Di tengah semua itu, melihat kehidupan orang lain melalui layar terkadang justru menambah beban pikiran.
Awalnya, membuka Instagram atau TikTok terasa seperti hiburan singkat. Namun, tanpa disadari, kita bisa menghabiskan waktu untuk melihat pencapaian teman, hubungan romantis orang lain, liburan yang menyenangkan, hingga kehidupan yang terlihat sempurna. Sementara itu, kita mungkin sedang berjuang menyelesaikan pekerjaan atau sekadar berusaha melewati hari dengan baik.
Pelan-pelan, kita merasa tertinggal, meskipun sebenarnya setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
Mengapa Menjauh dari Media Sosial Bisa Terasa Lebih Tenang?
Ada kalanya kita mengalami social hangover, yaitu rasa lelah secara emosional setelah terlalu banyak berinteraksi atau menerima stimulasi sosial. Setelah seharian bekerja, bertemu orang, dan merespons berbagai pesan, kita mungkin hanya ingin diam tanpa harus mengetahui kabar siapa pun.
Bahkan ketika sedang sendirian, media sosial bisa membuat pikiran terasa penuh. Kita melihat kehidupan orang lain yang terus berjalan, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan kehidupan sendiri.
Penelitian Li dan Wu yang diterbitkan dalam International Journal of Mental Health Promotion pada 2025 melibatkan 562 orang dewasa muda berusia 18–35 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa perbandingan sosial ke arah atas, seperti membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih sukses, berperan dalam hubungan antara penggunaan media sosial dan kecemasan.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa aktivitas sederhana di dunia maya terkadang membuat kita merasa kurang percaya diri. Meski begitu, pengalaman setiap orang berbeda dan penggunaan media sosial tidak selalu berdampak negatif.
Apakah Wajar Jika Kita Mulai Tidak Ingin Tahu Kehidupan Orang Lain?
Tentu saja, perubahan tersebut bisa menjadi bagian dari kebutuhan kita untuk mengatur ulang batasan pribadi. Ada masa ketika kita senang mengetahui kabar teman, tetapi ada pula masa ketika kita ingin lebih fokus pada kehidupan sendiri.
Mungkin kita sedang mengalami pikiran tiba-tiba mengingat masa lalu, mulai dari percakapan yang memalukan hingga keputusan yang masih disesali. Ketika pikiran sudah penuh, melihat pencapaian orang lain bisa membuat kita cemas dan mempertanyakan pilihan hidup sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, tidak melihat story orang lain bukan berarti kita membenci mereka atau tidak peduli lagi. Bisa jadi, kita hanya membutuhkan ruang untuk memproses perasaan tanpa terus menerima informasi baru.
Kita tidak harus selalu tersedia, selalu merespons, atau selalu mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan orang lain.
Beberapa hal sederhana yang bisa dicoba ketika dunia digital mulai terasa melelahkan antara lain
- Mematikan notifikasi aplikasi yang tidak mendesak.
- Mengatur waktu khusus untuk membuka media sosial.
- Berhenti mengikuti akun yang memicu perbandingan diri.
- Mengisi waktu luang dengan berjalan kaki, membaca, atau beristirahat.
- Menghubungi teman secara langsung ketika benar-benar ingin terhubung.
Memberi jarak bukan berarti menghilang dari dunia. Kita tetap bisa menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat tanpa harus mengikuti setiap aktivitas mereka.
Menjauh dari sosial media dapat menjadi kesempatan untuk mendengarkan kebutuhan diri sendiri. Kita bisa belajar menikmati hari tanpa merasa harus membagikannya, merayakan pencapaian kecil tanpa membandingkannya, dan menerima bahwa hidup tidak harus terlihat menarik setiap saat.
You don’t have to keep up with everyone to be happy with your own life.
Jika kita merasa lebih tenang setelah mengurangi waktu di dunia digital, tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut. Kita berhak menentukan seberapa banyak informasi yang ingin diterima dan kapan membutuhkan waktu untuk diri sendiri.
Menjauh dari sosial media bukan tentang menolak dunia luar, melainkan memberi ruang agar kita bisa kembali hadir dalam kehidupan yang sedang dijalani.
Sebab, hidup yang bermakna tidak selalu terlihat di layar. Terkadang, hidup terasa lebih utuh ketika kita berhenti melihat ke mana orang lain melangkah dan mulai memperhatikan langkah kita sendiri.